Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Agustus 2008

Pabrik Listrik Nyeleneh

PLN mungkin perlu ganti nama jadi Pabrik Listrik Nyeleneh. Lah wong perusahaan negara ini satu-satunya produsen listrik kok bisa rugi, ngakunya rugi karena listrik banyak dikonsumsi, Mosok krisis listrik karena konsumsi. Ini aneh. Umumnya perusahaan bungah dan senang jika konsumen menggilai produknya. Berarti produk itu laris. Tapi ini laris malah rugi. Laris menyebabkan rugi. Laris bukan berkah, tapi bencana. Luar biasa aneh.

Karena laris menyebabkan rugi dengan nyelehnya tanpa dosa PLN matiin pembangkitnya supaya orang banyak nggak bisa beli dan konsumsi karena kalau banyak yang beli pasti rugi..Akibatnya listrik pada byar pret, yang kantoran nggak bisa kerja karena udah tergantung banget sama komputer, pabrik-pabrik nggak bisa operasi dan peralatan listrik masyarakat juga pada rusak.

Kalau saja Kotler (prof marketing) tau ada kejadian nyata kayak gini, pasti dia udah bunuh diri karena teorinya benar-benar dimentahin sama PLN.


Mari ngeblog






MARI NGEBLOG.........DARI PADA BUKA SITUS SARU



Selasa, 12 Agustus 2008

Duh?! Birokrasi Negaraku


Hari selasa dan rabu tanggal 12 benar-benar hari yang melelahkan, bukan secara fisik tapi mental, pagi subuh buta kami bersama tim yang akan mengurus rekomendasi pinjaman daerah untuk membangun skylift di Kota Sawahlunto sudah meninggalkan rumah, tujuan satu membawa harapan masyarakat Kota Sawahlunto untuk memohon rekomendasi Departemen Dalam Negeri agar Kota Sawahlunto di bolehkan mendapatkan pinjaman untuk pembiayaan pembangunan objek wisata skylift yang telah diimpikan oleh masyarakat Kota Sawahlunto akan dapat mengangkat perekonomian mereka dari sektor pariwisata.

Sejak tahun 2001, melalui Peraturan Daerah Kota Sawahlunto Nomor 2 Tahun 2001 telah di tetapkan visi Kota Sawahlunto menjadi kota wisata tambang yang berbudaya. Visi baru ini ditetapkan karena Sawahlunto yang sebelumnya terkenal sebagai Kota Tambang Batubara dan merupakan salah satu kota penggerak ekonomi propinsi sumatera barat sedang gundah karena batubara sebagai penggerak utama ekonomi sedang menurun produksinya.

Pembangunan skylift direncanakan kan melintas di atas pusat kota dan diperkirakan sangat berpeluang untuk peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, dengan kondisi topogrofi yang cukup unik karena pusat kota dikelilingi oleh perbukitan maka pengunjung skylift akan disuguhi beberapa pemandangan yang menarik yaitu pemandangan keindahan alam, kondisi permukiman masyarakat, landscap kota serta instalasi pertambangan yang telah berumur ratusan tahun.

Namun karena APBD Kota Sawahlunto sangat terbatas, pembangunan skylift ini hanya mungkin dapat diwujudkan melalui pinjaman daerah dan untuk mendapatkan pinjaman daerah tersebut harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dan rekomendasi dari Menteri Dalam Negeri. Namun tidak mudah rupanya untuk mendapatkan rekomendasi tersebut, telah berulangkali Pemda Sawahlunto menyambangi Depdagri namun belum juga ada kepastian kapan izin dan rekomendasi tersebut dapat diberikan, karena ada perbedaan persepsi yang terjadi diantara pejabat Depdagri sendiri, ada yang mendukung dan ada yang ragu-ragu. Yang mendukung menyatakan bahwa rencana pembangunan ini sangat baik dan tentunya akan mendatangkan multiplier effect kepada masyarakat dan ekonomi kota Sawahlunto, yang ragu-ragu menyatakan bahwa investasi pembangunan ini merupakan ranah swasta dan bukan ranah pemerintah.

Disinilah letak rumitnya birokrasi negaraku ini karena semua aturan serba abu-abu, dalam permendagri hanya diatur tentang pinjaman jangka pendek digunakan untuk menutup defisit, pinjaman jangka menengah untuk pembangunan infrastruktur dan pinjaman jangka panjang untuk investasi dan tidak dinyatakan mana yang invetasi boleh dilakukan pemerintah dan mana ranah swasta. Dan sebenarnya yang harus diperdebatkan bukan ranahnya siapa tetapi seberapa besar objek ini dapat membuka lapangan kerja dan meningkatkan ekonomi masyarakat.

Yang lebih parah lagi, sepertinya pejabat Depdagri yang mengurusi masalah ini tidak siap untuk berdiskusi dengan Tim yang telah diundang datang ke Depdagri, dengan dalih berbagai alasan sang pejabat tidak mau menemui tim dan membiarkan tim menunggu selama 2 hari diruang kerjanya dan pejabat tersebut nggak berani nongol, padahal yang ngundang dia sendiri....??

Impian masyarakat sawahlunto untuk mewujudkan objek wisata skylift ini agak sedikit tertunda menunggu selesainya telaah dari Depdagri, padahal jika objek ini jadi diwujudkan akan mendatangkan peningkatan ekonomi minimal seperti gambaran berikut : Sebagai ilustrasi jika target pengunjung skylift sebesar 400.000 wisatawan dalam setahun dan sepuluh persen saja di antaranya menginap di Sawahlunto maka berarti akan ada minimal 800 wisatawan dalam setiap minggu yang menginap di Sawahlunto, jika diasumsikan dengan rata-rata tarif perkamar Rp. 250.000 dan setiap wisatawan minimal menginap dua malam saja maka akan ada perputaran uang sebesar Rp. 20 milyar pertahun atau Rp. 1,67 milyar perbulan hanya di industri hotel atau home stay saja. Hal ini tentunya akan sangat menarik bagi para investor untuk membangun hotel karena dengan kondisi saat ini sarana penginapan di Kota Sawahlunto hanya baru tersedia kurang dari 30 kamar. Jika dilihat lagi pada jasa restauran dan souvenir, diasumsikan setiap pengunjung skylift yang berjumlah 400.000 pertahun membelanjakan sedikitnya Rp. 50.000 rupiah untuk konsumsi dan souvenir maka tidak kurang dari Rp. 15 milyar terjadi perputaran uang di bidang jasa restorant dan souvenir ini pertahunnya atau sekitar Rp. 1,25 milyar perbulan. Belum lagi jika dilihat disektor informal lainnya seperti parkir, pedagang kecil (kaki lima) dan jasa lainnya, dengan pembangunan sklift ini maka semua sektor tersebut akan cukup banyak menyerap lapangan kerja yang pada akhinya akan meningkatkan pendapatan masyarakat Kota Sawahlunto.

Selasa, 05 Agustus 2008

PRESIDEN PEGADAIAN


Pemilihan langsung presiden untuk kedua kalinya di Indonesia, masih akan berlangsung tahun depan. Tapi hingar bingar Balonpres (bakal calon presiden) sudah terasa sejak saat ini.
Beberapa tokoh mulai unjuk diri melalui iklan TV dan media cetak. Mereka melakukan personal branding agar figurnya bisa masuk di benak masyarakat. Mereka kebanyakan tokoh-tokoh lama yang mengalami perjalanan hidup selama 3 orde: orde lama, orde baru dan orde reformasi.
Bahkan ada juga tokoh yang pernah memimpin, tergusur, lalu pingin kembali lagi, tak peduli saat memimpin memberi manfaat atau malah memberi mudharat pada bangsa dan negara.
Belakangan muncul wacana baru. Sebaiknya Indonesia dipimpin oleh tokoh muda. “Balonpres tua no way” begitu jargonnya. Muncullah beberapa Balonpres balita (dibawah lima puluh tahun). Setidaknya sudah ada dua balita yang berani unjuk dada mencalonkan diri: Rizal Mallarangeng (Executive Director Freedom Institute) dan Fajrul Rachman (Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara).
Sungguh menarik dan membanggakan. Karena ternyata banyak figur yang bersedia, suka rela, menawarkan diri menjadi pemimpin negeri yang belum bisa beranjak dari amukan krisis multidemensi. Utamanya krisis moral sejumlah wakil rakyat dan sejumlah pejabat, yang disadari atau tidak sudah menular sampai tingkat aparat di bawah.
Persoalannya, perdebatan yang muncul, juga pesan-pesan yang diusung para Balonpres tersebut belum menyentuh substansi solusi untuk negeri ini. Yang dijual justru problematika laten bangsa, yaitu kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan, mahalnya sandang, pangan dan papan yang sepertinya sudah dipahami oleh seluruh rakyat, tapi tak kuat untuk melawannya. Dan bahkan sebagian rakyat pun tahu bahwa beberapa diantara figur yang mencalonkan diri jadi Balonpres adalah bagian dari problem bangsa ini dan atau menjadi penyebab problem negeri ini.
Ada juga yang sekadar membanggakan kemudaannya. Orang muda itu pemikirannya progresif. Yang tua dianggap konservatif, tak ada pembaharuan, dan dicap tidak tahu tren global pemimpin muda. Vladimir Putin memimpin Rusia pada usia 40-an. Bill Clinton jadi presiden AS umur 47 tahun, Tony Blair jadi PM Inggris pada usia 43 tahun, juga Capres favorit AS Barack Obama umurnya 47 tahun.
Tapi bisakah munculnya pemimpin muda di luar sana sebagai sebuah tren? Di masa lalu, orang muda juga sudah tampil. Soekarno jadi presiden RI pada usia 44 tahun. Soeharto ketika menggantikan Soekarno juga belum genap 50 tahun. Muammar Khadafi memimpin Libya juga di usia 40-an. Dan pentingkah tren dunia di ikuti jika tak membawa perbaikan bagi bangsa dan Negara?
Calon presiden semestinya bukan ditentukan oleh muda atau tua, tapi apa yang bisa dilakukan untuk mengentaskan bangsa ini dari berbagai problema yang semakin hari semakin akut. Calon presiden juga tak cukup hanya memiliki gaya dan kemampuan seperti kartu kredit, yang keren, trendi, praktis, dan bisa mengatasi masalah secara instan, tapi kemudian memunculkan masalah baru ketika over limit dan tak cukup dana untuk melunasi tagihan.
Indonesia butuh calon presiden yang seperti jargon Pegadaian: Mengatasi masalah tanpa masalah. Dan yang pasti bukan figur yang bermasalah.